KRICOM - Sejak pemerintahan Soekarno, Jakarta memang sudah dicanangkan menjadi bagian dari politik mercusuar. Hal ini guna menunjukkan kepada dunia luar adanya kekuatan-kekuatan baru yang sedang tumbuh secara terstruktur dan berkelanjutan.
Bermula pada tahun 1950-an, pemerintah mulai bergerilya membangun sarana dan infrastruktur seperti jalan-jalan raya, gedung pemerintahan, bangunan hotel mewah, toko serba ada, kompleks olahraga, dan jalan melingkar. Salah satu jalan protokol di Jakarta yang selalu ramai ialah Jalan Sudirman dan Thamrin.
Sebagai ibu kota negara, keberadaan kedua jalan ini acapkali diidentikan dengan wajah Jakarta yang sesungguhnya. Gedung-gedung pencakar langit tersusun dengan begitu apik di sepanjang jalan tersebut. Bahkan bagi yang belum pernah menginjakkan kakinya di Jakarta, akan seolah terpanah dengan kemegahannya.
Namun tahukah kamu, bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan segera melakukan perombakan trotoar Jalan Sudirman-Thamrin? Rencana kerja ini sudah diumumkan pada Selasa 6 Maret 2018 lalu dan langsung mendapat respon beragam dari masyarakat DKI.
Nah, kali ini KRICOM bukan mau bahas soal kebijakan orang nomor satu di Jakarta ini. Melainkan sejumlah fakta-fakta unik yang banyak belum diketahui oleh publik. Buat yang penasaran, yuk baca sampai habis!
1. Asal Muasal Sudirman-Thamrin
ilustrasi: arifuddinali.wordpress.com
Sebelum menjadi kawasan utama di wilayah DKI Jakarta, puluhan tahun yang lalu kawasan ini masih berupa lahan kosong dan perkebunan, sebagaimana tergambar dari nama Kebon Kacang dan Kebon Kosong yang di sekitarnya.
Kemungkinan besar, yang pertama kali tinggal di kawasan ini adalah budak-budak dari Bali seperti nama Kampung Bali saat ini. Namun, lambat laun semakin banyak pendatang dari daerah atau bahkan negara lain yang ingin tinggal di Jakarta, maka pada tahun 1962 pemerintah menyelesaikan bangunan kompleks Gelora Bung Karno dan disusul dengan peresmian Hotel Indonesia (HI).
Hotel ini didirikan untuk menyambut kontingen olahraga berskala internasional karena di tahun tersebut Indonesia terpilih menjadi tuan rumah Asian Games IV.
Setahun kemudian, ketika Indonesia menyelenggarakan Ganefo (Games of The New Emerging Forces), yakni pesta olahraga negara-negara Asia Afrika yang baru merdeka, HI pun menjadi tempat menginap para atlet dan official mancanegara.
Bersamaan dengan itu, pemerintah berpikir akan perlunya merevitalisasi ruas jalan dan lalu lintas. Maka di tahun yang sama, dibangun pula jalan lingkar (Jalan Yos Sudarso, Gatot Subroto, dan Slipi Raya), serta Jalan M.H. THamrin dan Sudirman.
2. Peta Lokasi
ilustrasi: pixabay.com
Sudirman merupakan salah satu jalan utama yang paling menonjol di Jakarta karena letaknya di kawasan pusat bisnis kota atau financial district. Jalan ini pertama kali dibangun pada tahun 1949-1953 dengan tujuan untuk menghubungkan Jakarta Pusat dengan Jakarta Selatan.
Jalan ini membentang sepanjang 4 KM dari Dukuh Atas, Tanah Abang, Jakarta Pusat sampai Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jalan ini juga melintasi lima kelurahan, yakni Gambir, Kebon Sirih, Gondangdia, Menteng, dan Kebon Melati.
Jika kamu bekerja di kawasan ini, maka kamu akan terbiasa dengan kemacetan dan suara bising. Namun di hari libur, tepatnya Minggu pagi kamu bisa bebas karena ada pembatasan kendaraan atau car free day.
Nah, pada hari tersebutlah dijadikan momentum bagi sebagian masyarakat untuk mini rekreasi bersama keluarga, karena selain berolahraga, di sepanjang jalan tersebut banyak penjual yang menjajakan dagangannya.
Beragam moda transportasi pun telah disediakan pemerintah untuk memudahkan mobilisasi masyarakat yakni Transjakarta, angkutan umum seperti APTB, Metromini, dan Kopaja.
3. Surga Hiburan
ilustrasi: jejakpiknik.com
Jakarta dikenal sebagai kota yang dinamis, sebuah kota metropolitan yang tidak pernah tidur. Bagi siapapun yang menjajakkan kaki di kota ini, akan merasa dimanjakan dengan kemudahan fasilitas yang ada.
Jakarta juga disebut sebagai penghubung berbagai budaya yang memadukan antara modernitas dengan tradisi lokal. Tentunya banyak cerita dari ratusan lokasi yang ada di Batavia ini.
Selain sebagai kawasan bisnis, Jalan Sudirman-Thamrin juga terkenal dengan surganya tempat hiburan. Di sepanjang jalan ini, kamu bukan hanya melihat gedung perkantoran atau pemerintahan saja, melainkan kerlap-kerlip gedung pusat perbelanjaan.
Dimulai dari Jalan Thamrin, terdapat sebuah mal yang cukup melegenda, yaitu Sarinah. Mal setinggi 74 meter dengan 15 lantai ini merupakan gedung pencakar langit pertama Jakarta.
Sarinah pertama kali dibangun pada tahun 1962 atas prakarsa Presiden RI Pertama Indonesia, Soekarno. Tentu dulu namanya bukan mal, melainkan toko serba ada atau department store. Faktanya adalah, nama mal ini diambil dari nama pengasuh presiden Soekarno saat masih kecil.
Beranjak ke Jalan Sudirman, terdapat juga pusat perbelanjaan seperti EX Plaza Indonesia, Grand Indonesia, Pacific Place dan Senayan City. Tempat-tempat ini tergolong cukup fancy, karena toko-toko yang berada di dalamnya menjual barang-barang branded yang impor langsung dari luar negeri.
Tetapi kamu tidak perlu khawatir, karena d idalam mal tersebut juga terdapat food court, restoran lokal maupun asing, arena bermain, bahkan tempat hiburan malam.
4. Patung Jenderal Sudirman
ilustrasi: jejakpiknik.com
Sesuai dengan namanya, patung Jenderal Sudirman merupakan sebuah patung yang menggambarkan seorang pahlawan, yakni Jenderal Sudirman. Ukuran patung tersebut mencapai 12 meter dan tinggi 6,5 meter.
Patung ini berada di kawasan Dukuh Atas, tepat berada di depan Gedung BNI. Patung ini dibuat dari material perunggu yang kurang lebih beratnya sekitar 4 ton. Sunario adalah seniman dari patung Sudirman ini yang juga berprofesi sebagai dosen seni rupa di Institut Teknologi Bandung.
Jika dilihat dari sisi sejarahnya, rencana pembangunan patung Sudirman ini bertujuan untuk menghiasi jalanan yang ada di ibu kota. Peresmiannya pun dilakukan tepat pada tanggal 22 Juni 2003, yang bertepatan dengan perayaan HUT ke-476 kota Jakarta.
Namun ternyata peresmian tersebut diundur hingga 16 Agustus 2003. Pembangunan patung Jenderal Sudirman ini merupakan simbol dari semangat bangsa Indonesia.
5. Rencana Perombakan Trotoar Jalan Sudirman-Thamrin
ilustrasi: news.detik.com
Gubernur Anies sedang membahas rencana perombakan trotoar di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin. Pasalnya, sejak tahun 1962, jalan ini tidak pernah mengalami perubahan yang signifikan karena pemerintah fokus memperbaiki moda transportasi untuk rute di jalan ini.
Tujuannya simpel, ingin mengubah beberapa titik di trotoar Sudirman-Thamrin menjadi spot kebudayaan. Spot-spot kebudayaan itu nantinya akan dilengkapi panggung kecil yang bisa digunakan warga untuk berkumpul.
Kemudian trotoar yang berada di sekitar Stasiun Mass Rapid Transit (MRT) akan dibuat bermotif batik, tenun, anyaman, hingga ukir-ukiran. Motif yang digunakan berasal dari Sabang sampai Merauke. Selain trotoar bermotif, nantinya juga ada area edukasi.
Tidak hanya itu, nantinya area trotoar juga akan dilengkapi dengan kios dan toilet serta tempat untuk pergelaran budaya.
Proyek restorasi trotoar yang dinamai “trotoar kita” itu ditargetkan akan selesai pada Juli 2018 atau sebelum pelaksanaan Asian Games 2018.
Adapun perubahan trotoar di jalan ini, yakni penambahan dua ruas jalan khusus pejalan kaki, jalur fasilitas, jalur bus reguler dan motor, jalur Transjakarta, serta jalur khusus untuk kendaraan roda empat.
Kini poros Sudirman-Thamrin sudah menjadi hutan beton paling luas di seluruh Indonesia. Bahkan menjadi kawasan paling bergengsi dan mahal dengan sebutan “Segitiga Emas”.
Jika rencana perombakan trotoar ini sukses sesuai yang diharapkan, maka besar kemungkinan potrait Indonesia melalui jalan ini akan menjadi lebih baik.





